Sejarah Kampung Inggris Pare

Do you want to share?

Do you like this story?

Pare - Kediri, Beberapa tahun terakhir ini Kecamatan Pare begitu populer dikalangan pelajar dan mahasiswa, Kampung Inggris begitu mereka biasa menyebut Kota Kecil ini, sejak tahun 90-an Pare memang menjadi pusat belajar bahasa Inggris yang murah dan berkualitas.
Pare adalah salah satu daerah koordinator Kecamatan (dulu Kawedanan) di Kabupaten Kediri yang membawahi Kecamatan Puncu, Kecamatan Kepung, Kecamatan Kandangan, Kecamatan Plosoklaten, Kecamatan Gurah, dan Kecamatan Badas.

Di Kecamatan Pare ini ada dua desa yang unik untuk peningkatan sumber daya manusia yaitu desa Tulungrejo dan Pelem.
Desa Tulungrejo dibagi menjadi beberapa dusun yaitu Tulungrejo, Mulyoasri, Mangunrejo, Puhrejo dan Tegalsari sedangkan Desa Pelem dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: Pelem, Singgahan, Mbetonan, Ngeblek.

Keunikan di kedua desa tersebut terutama di dusun Singgahan, Tulungrejo, Mulyoasri , Tegalsari dan Mangunrejo adalah pembelajaran Bahasa Inggris. Kenapa dikatakan unik? Karena brand maupun iconnya adalah BAHASA INGGRIS yang identik dengan kota metropolitan atau luar negeri yang serba modern, bahasa akademik dengan ilmu pengetahuan dan technologi canggih, tapi ini kok di dusun kecil dan terpencil lagi? Unik bukan?

Sekarang Pare telah di kenal dengan istilah KAMPUNG INGGRIS atau KAMPUNG BAHASA karena lembaga kursusan bahasa Inggris disana sudah seperti jamur di musim hujan, tidak kurang dari 100 lembaga kursus, dan peserta kursusnya lengkap mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan sudah dimitoskan sebagian orang kalau pingin bisa bahasa Inggris silakan belajar di Pare.

Awal berdirinya kursus bahasa Inggris di Pare ini tidak lepas dari peran orang yang bernama M. Kalend O. Ketika mendengar nama ini tentu pembaca akan terasa asing. Tidak biasanya orang Indonesia bernama seperti itu, kita cenderung mempersepsikan bahwa nama tersebut identik dengan nama orang “bule”. Apalagi kaitannya dengan bahasa Inggris.

Memang banyak orang yang membayangkan bahwa Mr. Kalend (panggilan akrabnya) orangnya tinggi, hidungnya mancung, kulitnya putih, paling tidak orang menyimpulkan beliau ini “produk” barat. E… ternyata salah. Pak Kalend adalah orang dari Sebulu, Tenggarong, Kalimantan Timur. Sehingga performance-nya juga tidak jauh dari kita-kita semua.

Mr. Kalend pernah belajar di Pondok Modern Gontor, kemudian belajar private bahasa Inggris dengan ustadz Yazid, seorang ahli dibidang bahasa Asing di Tulungrejo Pare. Mulai dari sinilah pak Kalend mulai merintis karirnya yang kemudian merubah Pare menjadi kota kursusan bahasa Inggris.

Ustadz Yazid adalah Ahli bahasa yang sangat terkenal saat itu, bahkan banyak mahasiswa yang sengaja datang dari luar kota untuk menemui beliau sekedar ingin belajar bahasa Inggris dari-nya, Ustadz Yazid jugalah yang menyarankan kepada Pak Kalend untuk meneruskan perjuangannya mengajar bahasa Inggris.

Sebelum pak Kalend melembagakan kursusannya (BEC), beliau mengajar bahasa Inggris secara private dari satu tempat ke tempat lain, istilahnya ‘no madden’. “Saya dulu mengajar bahasa Inggris di emperan orang, dari satu tempat ke tempat lain.” Begitu kata pak Kalend setiap mengenalkan lembaganya ke siswa baru di awal pembelajaran.

Menurut penuturan dari sebagian tokoh masyarakat, seperti Bapak Ruslan (alm), mantan Kepala Desa Pelem (Dusun Singgahan tempat lembaga BEC berada masuk dalam Desa Pelem), Bapak Ahmad Ikhwan, pemangku musholla Al-Ikhwan, Dusun Singgahan, Bapak Drs. H. Hasbi Mursyid, pensiunan guru SMA di Pare, menyatakan hal yang sama bahwa dulu pak Kalend sering mengajar anak-anak di emperan rumah orang kampung atau di serambi masjid Darul Falakh, pernah juga di Balai Desa Pelem, kadang-kadang di bawa ke tempat-tempat bersejarah seperti Candi Surowono, Tegowangi, dan sesekali juga diajak ke lapangan, belajar sambil berolah raga.

Berapa murid pak Kalend waktu itu? Ya, pertanyaan ini sangat penting untuk dicari jawabannya. Menurut cerita sejumlah alumni seperti Shohib, tetangga sekaligus family dari istri pak Kalend, Ajie Bahleuwi (pendiri kursusan LIBERTY), Liliek Sosiowati, instruktur EECC, menginformasikan bahwa siswa pak Kalend waktu awal-awal mengajar ternyata tidak banyak, sekitar lima sampai sepuluh orang. Itupun yang hadir saling bergantian, jarang istiqomah hadir bersamaan secara penuh di setiap pertemuan. Jadi bongkar pasang. Bahkan pernah siswanya juga habis di tengah jalan.

Kita tentu bisa membayangkan betapa susahnya saat itu untuk mengumpulkan pelajar yang minat dan mau belajar bahasa Inggris! Rata-rata pelajar waktu itu tidak suka bahasa Inggris, karena asumsi mereka bahasa Inggris itu sangat sulit, tidak menarik, bahasanya orang kafir, ditambah lagi lokasinya di daerah terpencil, listrik belum ada.

Meski dengan modal perlengkapan yang sangat terbatas tapi pantang menyerah itulah akhirnya Pak Kalend banyak melahirkan alumni yang akhirnya ikut “meramaikan” kursusan di Pare hingga mencapai “prestasi” Luar biasa seperti sekarang ini.

YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Poskan Komentar

Ads Todays

Ads Todays